Pakualaman Resmi Dipimpin Adipati Baru

0

Kadipaten Pakualaman telah memiliki adipati baru. Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo, yang sebelumnya merupakan putra mahkota Pakualaman, resmi dinobatkan sebagai Adipati Pakualaman dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X.
Acara jumenengan atau penobatan KBPH Suryodilogo sebagai Paku Alam X berlangsung di Bangsal Sewatama Puro Pakualaman di Jalan Sultan Agung, Yogyakarta. Acara tersebut dihadiri berbagai tokoh, misalnya presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.
Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X juga hadir beserta keluarganya. Perwakilan sejumlah kerajaan di Nusantara, para pejabat daerah, serta akademisi dan tokoh masyarakat juga mendatangi acara itu.
Prosesi jumenengan Paku Alam X dimulai sekitar pukul 08.50 dengan masuknya para abdi dalem yang membawa sejumlah pusaka milik Kadipaten Pakualaman, termasuk tombak Kanjeng Kyai Buyut dan Kanjeng Kyai Paku Baru, ke Bangsal Sewatama Puro Pakualaman. Setelah itu, sejumlah abdi dalem perempuan juga menyusul masuk.
Tak lama kemudian, Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo memasuki Bangsal Sewatama bersama sang istri, Bendoro Raden Ayu (BRAy) Suryodilogo. Namun, Prabu Suryodilogo tidak langsung duduk di kursi singgasana, melainkan di kursi di sisi kanan bangsal. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Quran.
Setelah itu, salah seorang kerabat Pakualaman, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Jurumartani, membacakan Undhang atau keputusan dari Kawedanan Hageng Kasentanan Kadipaten Pakualaman. Undhang itu menyatakan, KBPH Prabu Suryodilogo resmi menjadi Adipati Pakualaman dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam Ingkang Jumeneng Kaping Sadasa.
sesudah itu, tetua kerabat Pakualaman, KPH Notoatmojo, melepaskan keris yang dipakai KBPH Prabu Suryodilogo, lalu menggantinya dengan keris Kanjeng Kyai Buntit yang merupakan keris kebesaran Adipati Pakualaman, dan kemudian KBPH Prabu Suryodilogo duduk di singgasana. KGPAA Paku Alam X lalu membacakan sabda dalam bahasa Indonesia.
Dalam sabdanya, Paku Alam X menyatakan akan menjalankan peran sebagai pengemban kebudayaan.
“Sebagai orang yang mendapat amanat untuk menjalankan tugas sebagai KGPAA Paku Alam X, saya sampaikan dengan jujur bahwa kewajiban yang akan saya laksanakan adalah tugas yang berat karena saya akan melanjutkan kewajiban leluhur Mataram sebagai pengembangan kebudayaan,” kata Paku Alam X.

Acara lalu diteruskan dengan penampilan Tari Bedaya Angrung Akung yang ditarikan tujuh penari perempuan. Sekitar pukul 10.00, sejumlah tamu, diawali Sultan Hamengku Buwono X, mulai meninggalkan tempat acara. Paku Alam X pun turun dari singgasana untuk mengantar Sultan dan setelah itu menerima ucapan selamat dari para tamu.
Pada Kamis siang mulai sekitar pukul 14.00, Paku Alam X akan mengikuti kirab ke sejumlah wilayah sekitar Puro Pakualaman. Kirab tersebut untuk memperkenalkan Paku Alam X sebagai adipati baru.
Masyarakat yang memadati rute jalan yang dilalui kirab dan para pengguna jalan tampak antusias menyaksikan rangkaian kereta pusaka. Hal itu dapat dimaklumi lantaran kereta-kereta pusaka ini praktis hanya keluar saat hajat dalem yang sangat khusus, seperti acara jumeng dalem kali ini.
Geladi kirab berlangsung singkat hanya memakan waktu 60 menit. Rute yang ditempuh adalah Jalan Sultan Agung, Gajahmada, Bausasran, Gayam, Cendana, Kusumanegara, Sultan Agung, dan kembali ke Kadipaten Pakualaman. Namun, saat pelaksanaan nanti diperkirakan waktu tempuh lebih lama mengingat panjangnya rangkaian peserta dan besarnya animo masyarakat untuk menyaksikan di jalur jalan rute kirab. Rencana sebagai rangkaian pembuka adalah empat gajah koleksi Kebun Binatang Gembira Loka, prajurit Lombok Abang, dan ditutup prajurit Plangkir dan kavaleri.
Kompleks bangunan Pakualaman terletak tidak jauh dari Keraton Yogyakarta, berada di sebelah timur Kali Code, sungai yang mengalir di tengah Kota Yogyakarta. Pakualaman merupakan kadipaten, raja kecil atau adipati yang mempunyai luas tanah lebih kecil dibandingkan dengan Kasultanan.
Pendiri Kadipaten Pakualaman adalah Pangeran Notokusumo, putra Hamengku Buwono I. Pada masa pemerintahan Hamengku Buwono II, situasi politik dan pemerintahan labil. Digambarkan oleh Poensen yang dikutip dalam buku Kadipaten Pakualaman, “Suasana istana agak kacau, para pegawai istana yang busuk dan curang selalu mengelabui mata-mata kompeni dan selalu mempunyai maksud hendak membinasakan rajanya sendiri yang tamak dan tidak cakap”.
Keadaan yang labil mengundang campur tangan Belanda untuk melakukan intervensi ke dalam keraton. Notokusumo yang sangat anti Belanda ikut tersingkir dari percaturan istana, tetapi terselamatkan nasibnya dengan kedatangan Inggris yang untuk sementara mengusir Belanda. Dianggap berjasa kepada Inggris, Notokusumo lalu dinobatkan menjadi Paku Alam I pada 17 Maret 1813, wilayahnya meliputi sebagian Kulon Progo dan sebagian Kota Yogyakarta.

No comments yet.

Tinggalkan Balasan

You might also likeclose