PUNCAK BECICI

Senja yang Tersembunyi di Balik Deretan Pinus Merkusii

4
Tersembunyi di balik deretan tanaman pinus merkusii yang tumbuh menjulang, langit senja di Bantul terlihat begitu mempesona. Dan ketika gelap datang, panorama lautan bintang-bintang imitasi pun membuat siapa saja yang memandang berdecak penuh kekaguman.
Nama Becici yang terdengar asing di telinga pun sebenarnya memiliki cerita sejarah tersendiri. Becici berasal dari gabungan kata “ambeg” yang berarti berdiam diri dan kata suci, dua kata yang merujuk pada cerita turun temurun kepercayaan masyarakat setempat. Cerita tentang putra pendiri Desa Muntuk yang bertapa di bukit di bagian barat hutan pinus dan kemudian ingin disemayamkan di bukit yang sama ketika meninggal dunia. Terlepas dari benar tidaknya cerita tutur ini, di puncak Bukit Becici memang ditemukan sebuah petilasan menyerupai makam.
Suara daun pinus yang bergesekan diterpa angin menjadi melodi alam yang menemani perjalanan kami menembus hutan pinus. Hanya perlu waktu sekitar lima belas menit dari parkiran untuk mencapai puncak Bukit Becici. Tak hanya barisan pohon-pohon pinus tinggi menjulang, kami juga menemui bangku-bangku dari batang pinus, ayunan kayu, beberapa gazebo sederhana dan gardu pandang dengan pengamanan ala kadarnya di sepanjang tepi jalan setapak. Terdapat pula area datar yang lumayan luas untuk bermain serta camping ground dengan jarak pohon pinus yang tak terlalu rapat. Semakin dekat dengan puncak bukit, jarak pohon-pohon pinus ini pun semakin renggang. Hingga matahari yang tadinya terhalang daun-daun pinus pun kembali menampakkan diri, semakin condong ke arah barat namun masih bersinar penuh semangat. Menyilaukan setiap mata yang mencoba menatapnya.
Puncak Becici memang spot yang tepat untuk menikmati saat-saat matahari terbenam karena bukit ini menghadap ke arah barat. Tak heran ketika kami tiba di puncak, sudah banyak orang yang menunggu momen-momen pergantian siang menuju malam. Ada yang terlihat asik berfoto di atas gardu pandang. Beberapa lainnya tampak berfoto di tepi tebing dekat dengan pagar besi pengaman. Sementara ada pula yang terlihat duduk-duduk di gazebo dan bangku-bangku dari kayu pinus yang tumbang. Mungkin menunggu giliran untuk berpose di atas gardu pandang. Sebuah ayunan tak berpenghuni pun menjadi pilihan saya untuk menikmati landscape yang disuguhkan sambil menunggu kesempatan menaiki gardu pandang.
Matahari semakin rendah ketika tiba giliran saya mencoba menaiki gardu pandang. Dengan ekstra hati-hati karena tak ada perlengkapan semacam tali pengaman, saya akhirnya bisa duduk di atas papan yang dibangun pada sebatang pohon pinus ini. Ada sensasi menggelitik ketika tempat yang saya pijak ini sedikit bergoyang diterpa angin. Namun tak ingin menyia-nyiakan waktu menunggu giliran yang lumayan panjang, saya mencoba melawan rasa takut dengan bertahan sedikit lebih lama duduk di atas gardu pandang hingga langit semakin gelap dan matahari pun mulai menyelimuti dirinya dengan awan-awan lembut di batas cakrawala.
Produsen Tas Rajut Kaay’s

No comments yet.

Tinggalkan Balasan

You might also likeclose